Pemudik Lebaran Tahun Ini Anjlok Nyaris 50 Juta, Ekonomi Indonesia Terancam Mandek - 'PHK Bikin Saya Batal Mudik, Bagaimana Bisa Pulang?'


Jumlah pemudik pada Lebaran tahun ini diprediksi merosot sebesar 24,34%, dari 193,6 juta orang pada tahun sebelumnya menjadi hanya 146,48 juta orang, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan bersama para akademisi.  

Meski penyebab pastinya tidak diungkap secara rinci, para pengamat ekonomi menilai bahwa melemahnya kemampuan finansial masyarakat, maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), serta berkurangnya bantuan sosial menjadi pemicu utama di balik fenomena yang disebut sebagai "keanehan" ini.  

Supriyono dan Hamidah adalah contoh dari ratusan pekerja yang terpaksa membatalkan rencana pulang kampung karena keterbatasan biaya akibat PHK yang baru saja mereka alami. Tabungan mereka yang semakin menipis hanya mampu mencukupi kebutuhan dasar sehari-hari.  

"Sedih tidak bisa kumpul bareng keluarga, tapi mau bagaimana tabungan menipis dan dipakai benar-benar untuk kebutuhan primer saja," ungkap Supriyono dengan nada sayu.  

"Saya enggak bisa pulang karena ongkosnya mahal, terus nanti balik ke Jakarta biaya lagi. Enggak mungkin kita pulang, enggak kasih apa-apa kan?" keluh Hamidah.  


Pemudik Berkurang Hampir 50 Juta Orang

Kebiasaan mudik menjelang Lebaran yang biasanya dirayakan oleh jutaan orang Indonesia tampaknya tidak akan begitu ramai pada tahun ini. Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan memperkirakan terjadi penurunan jumlah pemudik sebesar 24,34% dibandingkan tahun lalu, sehingga total pemudik diperkirakan hanya mencapai 146,48 juta orang—berkurang 47,12 juta jiwa dari angka 193,6 juta pada tahun sebelumnya.  

"Benar, besaran potensi pergerakan masyarakat saat mudik lebaran tahun ini (2025) mengalami penurunan dibanding tahun lalu," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub, Budi Rahardjo, pada Sabtu (22/03), sebagaimana dikutip dari Antara.  

Namun, Kemenhub tidak menyebutkan alasan spesifik di balik penurunan ini karena hal tersebut bukan fokus utama survei yang digelar pada Februari lalu. Mereka juga menambahkan bahwa keputusan masyarakat untuk mudik masih bisa berubah tergantung pada situasi dan kondisi yang berkembang.  

Prediksi ini ternyata terbukti. Data dari Sistem Informasi Angkutan dan Sarana Transportasi Indonesia (Siasati) mencatat bahwa hingga H-3 Lebaran, jumlah penumpang pada lima moda transportasi umum hanya mencapai 6,75 juta orang, turun 4,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan paling signifikan terjadi pada bus antarkota antarprovinsi (AKAP) sebesar 10,2%, diikuti oleh pesawat terbang yang turun 6,8%, dan kapal laut sebesar 4,8%.  


Mengapa Banyak Orang Batal Mudik?

Salah satu perantau yang memilih untuk tidak pulang kampung adalah Supriyono, pria asal Kebumen, Jawa Tengah. Ia mengaku tak memiliki dana untuk kembali ke kampung halamannya setelah kehilangan pekerjaan pada Juli 2024. Perusahaan tempatnya bekerja, PT Aditec Cakrawiyasa, yang memproduksi kompor gas dan aksesori merek Quantum, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 22 Juli 2024. Keputusan tersebut mengakibatkan PHK terhadap 511 karyawan, termasuk Supriyono.  

Ayah dua anak ini mengungkapkan bahwa pasca-pailit, ia dan rekan-rekannya belum menerima hak-hak mereka, seperti pesangon, gaji yang tertunda selama beberapa bulan, serta Tunjangan Hari Raya untuk dua tahun berturut-turut. Total utang perusahaan kepadanya diperkirakan mencapai Rp100 juta.  

"Jadi pada saat itu ada beberapa bulan gaji kami tidak dibayar penuh. Saya misalnya ada sepuluh bulan tidak menerima gaji utuh," cerita Supriyono kepada BBC News Indonesia, Minggu (30/03).  

"Tunjangan Hari Raya bahkan tidak full, tahun lalu cuma dibayar Rp500.000 dan tahun ini Rp1 juta. Jadi masih ada kekurangan."  

"Pesangon saya belum dapat sama sekali."  

Supriyono menjelaskan bahwa pembayaran hak-hak tersebut baru akan dilakukan setelah aset perusahaan yang disita berhasil dilelang. Sayangnya, hingga kini belum ada aset yang terjual. Dalam kondisi seperti ini, ia terpaksa mencari penghasilan dengan bekerja serabutan, seperti menjadi kuli bangunan atau tukang servis—apa saja yang bisa menghasilkan uang. Menurutnya, peluang untuk kembali bekerja sebagai buruh pabrik sangat kecil karena usianya yang sudah tidak muda lagi.  

"Sekarang kan mayoritas pekerja itu syaratnya minimal usia 18 tahun sampai 25 tahun, saya sudah di atas 40 tahun mau bagaimana?" tanyanya.  

Untuk menyambung hidup, Supriyono mengandalkan tabungan dari 28 tahun bekerja, yang kini hanya digunakan untuk kebutuhan pokok dan biaya pendidikan anak-anaknya yang masih kuliah dan bersekolah di SMA. Bahkan untuk mudik, ia tak mampu.  

"Posisi tidak bekerja, di-PHK, tidak punya penghasilan tetap... mau mudik gimana, sedangkan ongkos mudik tahu sendiri," katanya dengan nada lelet.  

"Tahun ini betul-betul masa paling sulit buat saya sekeluarga, karena setiap tahun pasti selalu pulang kampung ke Kebumen."  

"Ada perasaan sedih, namanya lebaran kan orang-orang pada pulang, kami enggak bisa. Biasanya kumpul-kumpul bareng keluarga, silaturahmi dengan adik-kakak-paman-sepupu... saya kangen silaturahmi dan kumpul-kumpulnya."  

Saat Lebaran tiba, ia hanya akan tinggal di rumah bersama keluarga kecilnya tanpa perayaan istimewa—no baju baru, no camilan khas Lebaran.  

Kisah serupa dialami Hamidah, perantau asal Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Wanita berusia 40-an ini tak bisa mudik seperti biasanya karena kehabisan dana setelah diberhentikan secara tiba-tiba oleh perusahaan konveksi tempatnya bekerja pada akhir Februari lalu.  

"Saya disuruh menandatangani surat pengunduran diri sebelum kontrak habis tanpa alasan yang jelas," ujar Hamidah kepada BBC News Indonesia, Minggu (30/03).  

Sejak kehilangan pekerjaan, pikirannya kacau, terutama menjelang Lebaran. Ia terbelah antara kerinduan pada kampung halaman dan kondisi keuangan yang seret.  

"Saya akhirnya memutuskan enggak pulang, karena buat ongkos juga mahal kan sekarang? Terus nanti saya balik pakai biaya lagi ke sini," tuturnya.  

Biasanya, ia mudik bersama suami menggunakan sepeda motor hingga Pelabuhan Merak, lalu menyeberang dengan kapal ke Bakauheni, dan melanjutkan perjalanan darat sejauh 66 kilometer ke kampungnya. Setiap mudik, ia perlu menyiapkan minimal Rp3 juta.  

"Kalau ditotal ongkos bolak-balik berdua Rp600.000. Tapi kan masalahnya keluarga banyak, ponakan saya banyak di kampung. Enggak mungkin pulang, enggak kasih apa-apa kan?"  

"Terus kita ngomongin kesusahan kita kayaknya enggak mungkin, saya enggak mau merepotkan orang di kampung."  

Hamidah juga mengaku keluarga besarnya kecewa dengan keputusannya. Kakaknya bahkan tak mau berbicara dengannya. Ia memahami kekecewaan itu karena Lebaran adalah satu-satunya waktu dalam setahun untuk berkumpul dan berziarah ke makam orang tua.  

"Kalau kata kakak saya, umur enggak ada yang tahu, makanya kalau bisa Lebaran itu pulang. Saya juga kangen ketemu saudara, ponakan."  

"Tapi mau bagaimana, tabungan saya hanya cukup untuk bulan ini, untuk bulan depannya sudah enggak ada."  
Kini, ia hanya bisa berharap keadaan membaik agar bisa mudik lagi tahun depan. "Yah mudah-mudahan saja saya cepat dapat kerja setelah Lebaran," katanya penuh asa.  

 Faktor Penyebab Anjloknya Angka Pemudik

Menurut Direktur Kebijakan Publik dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar, penurunan drastis jumlah pemudik pada Lebaran tahun ini dipengaruhi oleh beberapa aspek.  

Pertama, yang paling mencolok adalah menurunnya daya beli masyarakat. "Daya beli masyarakat itu lagi sulit-sulitnya. Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok sampai layanan jasa seperti tiket bus, kereta, bahkan pesawat sudah pasti memengaruhi," paparnya kepada BBC News Indonesia, Minggu (30/03).  

Celios mencatat, pelemahan daya beli sudah terdeteksi sejak pertengahan 2024, saat Indonesia mengalami deflasi selama lima bulan beruntun dari Mei hingga September. Deflasi kembali terjadi pada Februari lalu, tepat sebelum Ramadan—periode ketika konsumsi masyarakat biasanya melonjak. "Jadi memang daya beli masyarakat lagi rendah-rendahnya."  

Kondisi ini diperparah oleh tingginya angka PHK di berbagai sektor, seperti manufaktur, teknologi, perbankan, pengolahan, jasa, dan ritel, dengan sektor manufaktur menjadi penyumbang PHK terbesar. Data Kementerian Ketenagakerjaan menyebut sekitar 80.000 orang kehilangan pekerjaan sepanjang 2024, naik dari 60.000 pada tahun sebelumnya. "Dan saat orang di-PHK, mereka pasti menyimpan uangnya untuk membeli yang penting-penting saja kan?" tambah Askar.  

Faktor lain adalah ketidakpastian usaha dan upah yang tak kunjung naik. "Masyarakat kan juga cerdas ya, mereka harus berhati-hati mengelola keuangan. Yang punya usaha karena perlambatan ekonomi daripada pulang kampung menghabiskan uang, lebih baik menahan."  

Terakhir, ada penurunan bantuan sosial sebesar 16%, dari Rp168 triliun pada tahun lalu menjadi Rp140 triliun tahun ini. Menurut Askar, bantuan sosial adalah penopang utama masyarakat kelas bawah. "Dalam situasi sekarang, uang dari bantuan sosial bisa dipakai untuk mudik."  

Askar menegaskan bahwa penurunan jumlah pemudik ini bukan hal sepele. Berkurangnya peredaran uang di masyarakat menjadi sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang lesu. Mudik biasanya memicu perputaran uang besar dari kota ke desa, sekaligus menjadi indikator aktivitas ekonomi. Jika ini tak terjadi, dampaknya serius.  

"Penurunan pemudik itu berdampak pada pengurangan ketimpangan ekonomi. Karena uang ini tidak hanya mengalir dari kota ke desa, tapi juga dari luar Indonesia ke dalam negeri," terangnya.  

"Kalau uang itu berkurang maka sebagian daerah hanya menerima arus uang yang sedikit dari orang-orang yang tinggal di kota. Sehingga secara agregat, ketimpangan pendapatan antar-wilayah semakin tinggi."  
"Sebab sebagian daerah bergantung pada konsumsi dan belanja saat mudik," lanjutnya.  

"Contoh kalau Lebaran beli oleh-oleh, belanja ke warung, atau sewa tukang ojek di kampung. Kalau perantau enggak pulang, uangnya kan enggak nyebar."  

Selain itu, mudik juga berperan mengurangi kemiskinan di daerah. Misalnya, melalui infak di masjid yang biasanya terkumpul hingga ratusan juta untuk membantu anak yatim. Jika pemudik berkurang, dana untuk mengatasi kemiskinan pun menyusut.  

"Terakhir, momen Lebaran juga memberi kesempatan kerja bagi pengangguran musiman di daerah. Mereka yang tidak kerja, tiba-tiba jualan minuman atau makanan saat Lebaran."  

"Kalau perantau enggak pulang ya pendapatan mereka kecil kan?"  

Askar memperingatkan bahwa penurunan ini adalah alarm bahaya. Jika kondisi tak membaik, target pertumbuhan ekonomi 8% akan sulit tercapai. "Artinya perlambatan ekonomi akan terus berlangsung," pungkasnya.

 

Sumber : bbc

>

Posting Komentar untuk "Pemudik Lebaran Tahun Ini Anjlok Nyaris 50 Juta, Ekonomi Indonesia Terancam Mandek - 'PHK Bikin Saya Batal Mudik, Bagaimana Bisa Pulang?'"